Rakornas Adminduk Capil II, Transformasi Layanan Publik Menjadi Lebih Baik

By DUKCAPIL CERIA 26 Des 2019, 11:48:11 WIB forum dukcapil sumbar

Berita Terkait

Berita Populer

Rakornas Adminduk Capil II, Transformasi Layanan Publik Menjadi Lebih Baik

Jakarta, 26 November 2019

Kementerian Dalam Negeri menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional Adminitrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil II Tahun 2019. Kegiatan Rakornas diselenggarakan di Hotel Discovery Ancol Jakarta Utara pada 25 - 27 November 2019. Rakornas diikuti oleh seluruh jajaran Dukcapil di seluruh Indonesia, meliputi Kepala Dinas Dukcapil Provinsi dan Kabupaten/Kota, pejabat eselon III Dukcapil serta staf pendamping.

Agenda Rakornas juga dihadiri oleh instansi BPS, OJK, BRI, dan instansi lainnya yang sudah melakukan kerjasama dengan Dukcapil dalam pemanfaatan data kependudukan. Jajaran Badan Pusat Statistik dihadiri oleh Kepala BPS beserta deputi dilingkungan BPS serta seluruh Kepala BPS Provinsi dari seluruh Indonesia.

Dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Padang Pariaman, Rakornas dihadiri oleh Kepala Dinas, Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan, Kepala Bidang Pemanfaatan Data dan Inovasi Pelayanan, dan Kepala Seksi Pendataan Penduduk.

Kegiatan diawali dengan laporan panitia oleh Dirjen Dukcapil Kemendagri Prof. DR. Zudan Arif Fakhrullah, SH, MH. Dalam laporannya Dirjen Dukcapil menyampaikan tahapan kebijakan Dukcapil yaitu:

  1. Dukcapil BISA (berkarya,  inovasi; inovatif, sabar; semangat, adaptif; amanah)
  2. GISA, gerakan Indonesia sadar administasi kependudukan
  3. Dukcapil go digital,
  4. ADM, Inovasi Anjungan Dukcapil Mandiri

mesin dukcapil.jpg

Dalam melaksanakan tahapan kebijakan, Dukcapil melalui strategi transformasi, orkestrasi dan sinkronisasi. Transformasi dilakukan dalam menyikap pentingnya data kependudukan, melakukan perubahan layanan dari berbasis dokumen yang tersebar, menjadi big data berbasis digital.

Orkestrasi dilakukan untuk menyamakan gerak langkah dan irama kebijakan untuk seluruh Indonesia. Paradoks yang harus dijalankan yaitu pendekatan semi vertikal dimana pejabat Dukcapil diangkat oleh Kemendagri dengan status tetap sebagai pegawai daerah. Tidak mudah mengelola Dukcapil dengan konsep semi vertikal.

Pada tahapan strategi sinkronisasi sehingga dimana pun kebijakan layanan Dukcapil sama, masyarakat bisa berurusan. Dengan strategi orkestrasi dan sinkronisasi, Dukcapil bisa melakukan mobilisasi pelayanan adminduk ke daerah yang masih rendah capaian adminduknya yaitu Papua, Papua Barat, dan Sulawesi Barat. Mobilisasi layanan adminduk didukung oleh seluruh jajaran Dukcapil di seluruh Indonesia melalui SDM dan sarana prasarana.

Kerja keras tersebut membuahkan hasil dalam bentuk peningkatan kualitas layanan adminduk. Dari 514 kabupaten/kota sudah 459 daerah yang menerapkan tanda tangan elektronik (digital signature). Sehingga proses layanan adminduk bisa dilaksanakan dimana saja dan kapan saja.

Kebijakan ini merupakan bagian dari konsep smart city dan save city.

Sementara itu Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam sambutannya pada pembukaan Rakornas memberikan apreasiasi kepada seluruh jajaran Dukcapil mulai dari pusat sampai ke daerah sehingga telah menciptakan lompatan besar dalam model pelayanan publik. Apresiasi atas kekompakan dan suasana kekeluargaan Dukcapil serta budaya kerja yang sama dari atas sampai ke bawah melalui tagline Dukcapil Bisa. Hal ini terkait tidak gampang mengelola Dukcapil sebagai sebuah institusi semi vertikal dengan dua ‘atasan’ yaitu Dirjen Dukcapil dan para Bupati/walikota.

Pada sisi lain Dukcapil dihadapkan pada tantangan untuk mengelola jumlah penduduk yang besar serta tersebar terpencar antar pulau. Hidup dipisahkan oleh laut dan selat.

Dengan lompatan besar salah satunya melalui facial recognition system yang merupakan sebuah teknologi pendeteksi wajah. Hal ini merupakan bagian dari pengembangan perekaman biometrik. Teknologi ini sangat bermanfaat terutama dalam penyelesaian masalah kriminal.

Konsep ini sejalan dengan konsep smart city dan save citySave city diukur berdasarkan indikator street crime, infrastructure security, health security, dan digital security.

Street crime dilihat dari rendahnya angka kejahatan dijalanan, infrastructure security dilihat dari infrastruktur yang ramah, ruang publik, ruang ramah disabilitas. Health security terkait dengan sarana kesehatan, ruang terbuka hijau,  dan sistem untuk uji pangan. Sedangkan digital security terkait dengan penggunaan teknologi digital seperti cctv, data elektronik, dll.

Data kependudukan merupakan tulang punggung (back bone) bagi smart city dan save city. Keberhasilan kebijakan smart city dan save city sangat tergantung dari akurasi data kependudukan.

Pada akhir sambutannya Mendagri kembali mengulang apreasiasinya atas budaya kerja (working culture) Dukcapil dengan tagline Dukcapil Bisa. Dengan penekanan pada konsep sabar dan semangat, amanah.

Saatnya merubah mindset,  sabar semangat,  amanah dan investasi akhirat.

Pelayanan publik untuk berbuat kebaikan

Kebaikan kepada masyarakat

Terus berinovasi,  Terus berimprovisasi.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment